Jumat, 18 Maret 2011

Indahnya Bersedekah :)

Indahnya Hidup dengan Bersedekah
Oleh : Aa Gym

Di dalam surat At-Thuur ayat 27-28. yang dikaitkan dengan Ar-Rahiim, sebagian ulama menyatakan bahwa kedermawanan Allah itu karena sayangnya kepada hamba-Nya, bukan karena ingin sesuatu dari hamba-Nya.

Kalau kita bersikap dermawan, belum tentu dermawan karena sayang. Kita bersikap dermawan, atau bersedekah, paling buruk, mungkin karena takut dianggap pelit. Ada juga yang bersedekah supaya tidak diganggu atau direpotkan oleh peminta-minta. Sesungguhnya, memberi karena takut dianggap pelit, atau malas diganggu, lalu memberi, ini semua belum termasuk kategori dermawan. Ada yang sedekah dengan harapan imbalan. Ada orang yang dermawan karena berharap. Ada yang juga dermawan karena ingin dianggap dermawan. Dia suka sekali dianggap dermawan.

Yang baik itu adalah dermawan karena Allah. Ini adalah tingkatan yang tinggi. Sebagian kita kalau bersedekah itu ada harapan-harapan terselubung, misalnya :"saya mau bersedekah nih….supaya terhindar dari musibah atau bala. Saya mau bepergian dengan pesawat, supaya pesawatnya tidak jatuh, maka saya bersedekah."

Dermawan atau bersedekah untuk suatu keinginan tertentu sebenarnya boleh-boleh saja, karena ada keterangan-keterangan tentang keutamaan atau fadilah bersedekah. Tidak salah kalau bersedekah karena ingin dilindungi Allah., karena itu memang janji Allah, dan itu juga jadi ibadah. Ada juga yang dermawan karena ingin dimampukan Allah membayar hutang, saya punya hutang sepuluh juta. Saya harus cari uang satu juta untuk saya sedekahkan. Kenapa? Karena janji Allah sepuluh kali lipat. Apakah boleh? Yah, boleh saja, karena janji Allah memang begitu. Hanya dalam hal ini ikhlas pedagang, melakukan amal dengan cara hitung-hitungan, berharap imbalan dari Allah.

Memang, seseorang beramal macam-macam niatnya. Ada yang ingin duniawi. Ada yang ingin pahala. Kenapa saudara ke Masjid? Karena pahalanya 27 kali lipat, luar biasa. Kenapa saudara shaum? Karena pahalanya tidak terukur. Kenapa saudara rajin shalat di Masjidil haram? Karena pahalanya setara dengan 100.000 kali shalat di tempat lain. Ada tipe orang yang hitung-hitungan terus jumlah pahalanya. Ini tidak apa-apa.

Ada orang yang levelnya lebih tinggi lagi. Dia tidak melulu memikirkan pahala. Tidak akan salah Allah menghitung, tidak usah ruwet mikirin pahala. Yang penting apa yang Allah suka, pasti baik untuk saya. Tidak banyak orang yang mikir tentang syurga. Tapi banyak juga yang…ah apalah artinya syurga, yang penting saya jumpa dengan Allah. Karena tidak ada kebahagiaan terbesar di akhirat kecuali bisa menatap Allah.

Kalau orang pikirannya sudah Allah. Hanya orientasinya Allah. Sudah, didunia saja sudah merasakan syurga. Orang yang hatinya selalu tertuju kepada Allah, didunia ini tidak begitu berarti baginya. Kecuali dunia ini, baru mendengar adzan saja, dia bisa dunia ini hilang. Rezeki terbesar memang ketika orang sudah Allah saja di hatinya.

Yang namanya tawadhu’, yang namanya syukur, yang namanya ikhlas, yang namanya zuhud, yang namanya wara’. Semua puncak amal itu pasti Cuma satu kekuatannya. Cukuplah Allah, hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’mal nashiir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar